Politik Global AS pasca 9/11

Keunikan dari politik dunia adalah bersifat dinamis, dimana tidak ada yang pasti dalam politik internasional, kawan dapat menjadi lawan dan lawan dapat menjadi kawan disesuaikan situasi dan kondisi yang terjadi. Ketidakpastian inilah yang membawa perubahan pola interaksi dunia.

 

Time line perkembangan politik hingga pasca 9/11:

Amerika sebagai negara superpower memiliki pengaruh yang sangat besar dalam peta perpolitikan dunia, terutama setelah hancurnya Uni Soviet. Saat ini dengan kemajuan perekonomian China yang begiu pesat serta terjadinya peristiwa 9/11 yang menimpa negara superpower tersebut, maka AS melakukan perubahan dalam politik luar negerinya dan hal itu menyebabkan perubahan perpolitikan internasional. Perubahan politik luar negeri AS tidak terlepas dari adanya faktor domestik serta eksternal yang menjadi bagian penting dalam perumusan politik luar negeri.[1]

Dalam ujian ini artikel yang dipilih adalah artikel dari International Herald Tribune, 22 maret 2005 “How America’s Interests collide in Asia”. Hal ini menarik karena di Asia adalah benua yang sangat luas dimana terdapat begitu banyak negara dan terdapat berbagai masalah. Hal ini membuat AS terlibat didalamnya dimana tujannya adalah untuk memenuhi national Interest mereka. Untuk lebih jelasnya, apa saja yang menjadi isu-isu strategis yang dihadapi politik luar negeri AS setelah peristiwa 9/11 akan dijabarkan dalam bentuk matriks dan penjelasan dibawah ini.

A. Identifikasi dan penjelasan terhadap isu Strategis yang dihadapi politik luar negeri AS pada era pasca 9/11:

Issues on United State’s foreign policy

 

Issues

 

Level of

importance

Military Area/ Security

Economic Area

Political Area

Vital

Ö

Ö

Ö

Extremely Important

Ö

Ö

Important

Ö

Dalam kaitannya menjelaskan isu-isu (strategis) yang dihadapi Amerika Serikat (AS) setelah peristiwa 9/11 di kawasan Asia sesuai dengan rujukan artikel dari International Herald Tribune, 22 maret 2005 “How America’s Interests collide in Asia” maka pembahasan akan mencakup tingkatan yang berbeda dalam kepentingannya[2], yaitu : Vital (isu tersebut mendapat perhatian dan prioritas utama dari Amerika), Extremely Important (dimana isu ini dianggap sangat penting bagi AS dan merupakan pendukung dari isu vital namun tidak menjadi fokus utama), dan Important (Amerika menganggap isu tersebut penting tapi tidak berpengaruh langsung terhadap AS). Bagian lain dari matriks diatas menjelaskan 3 bidang utama yaitu: ekonomi, politik ,dan militer yang kemudian dibagi berdasarkan isu-isu strategis yang dihadapi AS.

Pembahasan pada tiga hal tersebut dikarenakan aspek utama yang mendasari AS dalam membina hubungan dan menerapkan politik luar negerinya di Asia adalah dengan mengacu pada bidang-bidang tersebut. Ekonomi, dalam matriks diatas terbagi atas 2 isu utama yaitu dalam hal persaingan kompetisi dengan negara-negara di Asia dalam memperebutkan pasar bagi produk-produk yang dihasilkan dan dalam persaingan mendapatkan pasokan minyak dan gas bumi.

Kompetisi mendapatkan pasar dalam matriks diatas dimasukan kedalam tingkat Extremely Important dikarenakan: pertama, saat ini perdagangan merupakan cara utama dalam meningkatkan perekonomian suatu negara. kedua, negara-negara di asia dapat menyediakan barang yang murah dengan kualitas yang bagus, hal ini menjadi ancaman bagi barang-barang produksi AS sehingga persaingan memperebutkan pasar menjadi sangat penting. Ketiga, defisit perdagangan AS terhadap negara-negara di Asia mengalami peningkatan, hal ini tentu saja membahayakan perekonomian AS[3]. Alasan-alasan diatas menggambarkan bahwa isu memperebutkan pasar menjadi isu yang Extremely Important karena apabila hal ini dipandang sebelah mata bagi AS maka imbasnya akan menggerogoti perekonomian negara tersebut sedikit demi sedikit hingga dapat terjadi kerapuhan ekonomi yang mengancam survival AS itu sendiri.

Persaingan mendapatkan sumber minyak dan gas bumi dikategorisasikan dalam tingkat vital dikarenakan: pertama minyak dan gas bumi merupakan sumber energi utama saat ini. Kedua, Amerika merupakan pengkonsumsi minyak bumi terbesar di dunia.[4] Ketiga banyaknya ladang minyak yang telah mencapai “peak production”nya, sehingga produksi minyak dunia menurun sedangkan permintaan dunia akan minyak meningkat. Hal ini menyebabkan meroketnya harga minyak yang diprediksi banyak pengamat akan menembus level US $100/barrel dan menyebabkan terjadinya krisis minyak global. Keempat, apabila AS kekurangan pasokan minyak maka hal tersebut berimbas langsung terhadap sektor industri dan militer AS sebagai pengkonsumsi utama BBM (bahan bakar minyak). Apabila ini terjadi maka perekonomian negara juga akan terganggu. Karena alasan diataslah mengapa Amerika menganggap isu ini begitu penting dan saya menempatkannya dalam matriks diatas sebagai isu vital.

Dalam sektor politik, negara-negara Asia banyak yang belum menerapkan dan melaksanakan prinsip demokrasi dan hak asasi manusia (China, Myanmar, Korea Utara dll) hal ini menjadi permasalahan bagi AS karena negara yang tidak demokrasi tersebut dapat melakukan tindakan langsung sesuai perintah dari pemimpinnya tanpa persetujuan dari rakyat. Contoh: apabila China menyerang Taiwan maka Amerika akan terlibat sebab AS telah memiliki perjanjian keamanan dengan Taiwan.

Oleh karena itu saat ini AS begitu gencarnya menyerukan penerapan demokrasi di Asia. Hal ini ditujukan agar terdapat kontrol dari masyarakat terhadap tindakan negara sehingga diharapkan stabilitas kawasan akan menjadi jauh lebih stabil. Isu ini dimasukan ke dalam tingkat Extremely Important dikarenakan negara tidak demokratis berpotensi menyebabkan stabilitas kawasan menjadi tidak kondusif dan stabil bahkan mengancam United State’s Homeland. Contohnya Korea Utara yang berencana melaksanakan ujicoba nuklirnya, negara tersebut bergantung pada keputusan pemimpinnya, hal ini dapat menyebabkan memanasnya hubungan negara-negara di kawasan.

Jika kita melihat kedalam sektor keamanan atau militer, maka terdapat tiga isu utama yang kerap menjadi perhatian AS, yaitu: War on terrorism,Weapon of Mass Destruction (WMD), dan modernisasi peralatan militer China.

War on terrorism dan WMD dalam matriks diatas dikategorikan sebagai isu vital hal ini dikarenakan pertama, setelah peristiwa 9/11 Amerika menyadari bahwa terdapat gerakan-gerakan yang bertujuan untuk mengganggu hegemoninya dan mengancam “homeland”nya[5]. Setelah itu Amerika begitu gencarnya meburu para terorris yang mereka anggap terlibat dalam peristiwa tersebut dan kelompok-kelompok atau gerakan yang mempunyai indikasi kearah penyebaran teror. Kedua, Asia dianggap sebagai kawasan yang mudah dimasuki oleh jaringan terrorisme dan sebagai basis perluasan jaringan terorisme dunia karena Kontrol negara terhadap keluar masuknya penduduk lintas negara serta penegakan hukum yang rendah. Ketiga, WMD dianggap memberi efek psikologis negatif yang kuat, perasaan tidak aman dan dibawah bayang-bayang teror. Keempat , banyak negara di Asia yang memiliki teknologi nuklir namun tidak diikuti dengan penerapan sistem demokrasi, sehingga setiap saat dapat menjadi ancaman bagi “US Homeland” Contoh: Korea Utara yang dikabarkan memiliki roket pembawa nuklir berdaya jelajah hingga ke seluruh bagian Amerika Serikat. Hal ini selain menjadi ancaman bagi stabilitas kawasan juga menjadi ancaman langsung bagi negara superpower tersebut. Berbagai alasan diatas menjadi dasar pemikiran penempatan isu tersebut kedalam isu vital karena berdampak langsung terhadap keberadaan Amerika Serikat sebagai negara yang bebas dan aman.

Isu militer atau keamanan yang lain adalah pemodernisasian perlengkapan militer, dimana hal ini menjadi perhatian AS dikarenakan pertama, China merupakan negara yang memiliki jumlah pasukan militer terbesar di dunia. Kedua, ketidaktransparanan China dalam melaporkan jumlah anggaran belanja militernya sehingga ditakutkan akan merusak stabilitas kawasan karena kecemasan dari negara-negara sekitarnya (Jepang dan Taiwan memiliki masalah sejarah yang panjang dengan China)[6]. Ketiga, China juga merupakan anggota tetap dewan keamanan(DK) PBB, yang juga memiliki hak veto, dan apabila kekuatan militernya meningkat dikhawtirkan dapat menggangu dominasi AS di DK PBB. Keempat, ketakutan AS bahwa China menggunakan kekuatan militernya tersebut untuk menyerang Taiwan yang mereka anggap sebagai bagian China yang membangkang. Sedangkan AS sendiri memiliki perjanjian keamanan dengan Taiwan sehingga bila terjadi perang, Amerika akan ikut terlibat.

Akan tetapi AS juga tentu menyadari bahwa di China sendiri terjadi banyak masalah dibalik segala kemajuannya itu, ketimpangan antara bagian barat dan timur negeri ini dapat memunculkan konflik internal. Ketergantungan China terhadap AS juga masih tinggi sehingga sulit rasanya apabila China menyalahgunakan modernisasi peralatan militernya. Selain itu juga teknologi militer China juga masih jauh dibawah AS, dan China juga mengakui bahwa modernisasi yang dilakukan hanya untuk memperbaharui persenjataan yang sudah lama. Bila dibandingkan dengan AS maka pengeluaran belanja militer kedua negara ini masih sangat jauh. Oleh karena itu isu modernisasi perlangkapan militer China dimasukan pada tingkat isu importence.

B. Keterkaitan isu-isu diatas terhadap kepentingan nasional dan instrument politik luar negeri yang dimiliki AS:

 

Kepentingan nasional atau national interest merupakan tujuan fundamental dan faktor penentu akhir yang mengarahkan para pembuat keputusan dari suatu negara dalam merumuskan kebijakan luar negerinya[7]. Pada bagian ini akan dibahas mengenai keterkaitan kepentingan nasional terhadap instrumen politik luar negeri AS yang akan digambarkan berdasarkan matriks berikut ini:

Benua Asia pasca 11 september 2001 kembali menjadi fokus utama perhatian AS disamping wilayah timur tengah, hal ini disebabkan karena Asia dianggap sebagai wilayah yang dijadikan basis oleh para teroris, selain itu benua asia menjadi bagian yang penting bagi politik luar negara AS dikarenakan dalam sektor perekonomian, Asia merupakan pasar yang sangat luas bagi produk AS dimana lebih 1/3 penduduk dunia berada di benua ini. Bahkan jalur perdagangan dunia tersibuk ada di benua ini (selat malaka). Asia juga dianggap AS sebagai lubang dalam upayanya memberantas terorisme, karena banyak negara di asia yang memiliki penegakan hukum yang lemah dan belum memiliki sistem imigrasi yang baik sehingga perpindahan manusia dari satu negara ke negara lain begitu mudahnya terjadi tanpa dapat diidentifikasi oleh negara yang bersangkutan (banyak imigran yang masuk secara tidak legal).

Dalam matriks diatas dapat dilihat dari salah satu kepentingan nasional vital AS yaitu Survival dimana keselamatan penduduk dan keberlangsungaan hidup negara menjadi prioritas utama dari kebijakan luar negeri AS. Hal ini berimbas pada penggunaan instrumen dan power yang dimiliki oleh AS. Dalam bidang militer AS cenderung menggunakan instrumen detterence dalam menjalankan politik luar negerinya di hampir semua negara di Asia, dimana Amerika berusaha menunjukan superioritas militer mereka untuk membuat tidak ada yang berani mengganggu warga dan kelangsungan negaranya. Sedangkan instrument ekonomi yang digunakan dalam politik luar negerinya adalah Foreign Assistance, dimana AS turut membantu peningkatan perekonomian negara-negara di Asia melali pemberian kemudahan akses perdagangan ke AS, penanaman modal asing dan lain sebagainya dengan harapan negara-negara tersebut terikat dan tergantung pada AS, hal ini dapat mengurangi ancaman terhadap survival AS. Akan tetapi foreign Assistance ini hanya diberlakukan bagi negara-negara di Asia yang mematuhi semua keinginan AS di berbagai bidang yang menyangkut kepentingan negaranya atau dengan kata lain negara yang dapat dikontrol oleh AS. Dalam penggunaan instrumen diplomasi[8], AS menggunakan berbagai jenis instrumen baik secara bilateral, multilateral bahkan hingga public diplomacy yang mana semua tujuannya adalah menegaskan bahwa survival AS adalah hal yang terpenting dalam setiap kebijakan luar negeri yang diambil negara tersebut. Contohnya pendekatan AS terhadap negara Jepang yang menggunakan semua instrumen diplomasi guna menjalin hubungan yang baik dan saling menguntungkan

Kepentingan nasional vital lainnya yaitu menjaga “homeland” Amerika, Homeland disinimemiliki pengertian yang kabur, apakah “homeland” berarti wilayah teritori Amerika ataukah seluruh wilayah dimana terdapat kepentingan AS disana. Dalam invasi yang dilakukan AS ke irak, dapat dipertanyakan apakah irak yang terletak sangat jauh dari AS merupakan “Homeland”nya, apakah invasi tersebut untuk menyelamatkan warga irak dari pemimpin yang otoriter ataukah untuk menyelamatkan pasokan minyak yang menjadi kebutuhan Amerika. Konsep “Homeland” disini merupakan konsep yang samara. Dalam menjalankannya AS menggunakan instrumen militer, dimana untuk politik luar negerinya di Asia masih menggunakan instrument deterrence, tetapi tidak menutup kemungkinan suatu saat akan menggunakan prinsip pre-emptive (menyerang untuk melindungi) seperti yang mereka lakukan di Irak. Ketika kita berbicara mengenai instrumen ekonomi maka prinsip foreign assistance masih dipakai dengan mendekatkan diri terhadap negara-negara yang diduga menjadi tempat bersembunyinya para pelaku terror dan menekankan negara tersebut untuk berperan aktif dalam perang melawan terorisme dengan cara terus memberikan bantuan ekonomi kepada negara tersebut. Selain instrumen tersebut, instrumen diplomasi juga digunakan oleh AS dalam segala bentuk baik, bilateral, multilateral, public diplomacy bahkan coercive diplomacy seperti yang dilakukan Amerika terhadap Vietnam pada perang Vietnam[9].

Dalam matriks diatas terdapat satu lagi yang dikategorisasikan sebagai kepentingan nasional vital AS yaitu menjamin terpenuhinya kebutuhan minyak dan gas bumi yang menjadi motor penggerak roda perekonomian serta industrialisasi di AS. Pentingnya minyak dan gas bumi bagi negara pengkonsumsi terbesar komoditi tersebut membuat ekspansi dan eksplorasi sumber-sumber minyak baru menjadi salah satu agenda yang diutamakan oleh AS. Persaingan dengan negara-negara industri maju dan negara industri baru yang sama-sama membutuhkan minyak membuat AS menggunakan instrumen dan power yang dimilikinya secara maksimal. Dilihat dari instrumen politik, pendekatan deterrence tatap digunakan dengan menunjukan superioritas militernya serta mengadakan kerjasama militer dengan negara-negara di Asia (terutama negara penghasil minyak) sehingga negara-negara tersebut terus menjamin pasokan minyaknya untuk Amerika. Dalam pendekatan diplomasi AS lebih memilih sistem diplomasi bilateral dimana langsung berhubungan dan mencari komitmen akan kejelasan pasokan dari negara-negara penghasil minyak di Asia.

Beralih ke kepentingan nasional yang bersifat Extremely Importance, yaitu menjamin stabilitas kawasan agar AS tidak terkena imbas dari pergolakan yang terjadi. Serta medukung terciptanya kesamaan hak baik dalam penegakan Demokrasi maupun Hak Asasi Manusia[10]. Stabilitas disini bermaksud bahwa AS memerlukan kestabilan di kawasan agar interaksi baik ekonomi maupun bidang lainnya dapat berjalan tanpa ganguan. Dapat dibayangkan apabila dalam suatu kawasan terjadi suatu chaos maka secara tidak langsung aktivitas perdagangan AS di kawasan itu terganggu dan hal itu bila berlangsung lama dapat menyebabkan kemunduran dalam laju perekonomian Amerika. Instrumen militer berbasis konsep deterrence dipakai oleh AS untuk menjamin terciptanya stabilitas kawasan yang kokoh. Dengan berperan sebagai negara yang menjaga terciptanya stabilitas di kawasan dan memilki kekuatan militer terbesar maka AS dapat membuat pihak yang menginginkan terjadinya ketidakstabilan dalam kawasan untuk berpikir lebih keras dan jauh akan dampak dari tindakannya.

Dalam penegakan demokrasi dan hak asasi manusia (HAM), instrumen yang digunakan adalah diplomasi baik yang berbentuk bilateral maupun public diplomacy, pendekatan bilateral dilakuakan AS guna mempertegas secara langsung terhadap negara yang bersngkutan akan komitmennya dalam penegakan Demokrasi dan HAM

Ketika berbicara dalam konteks ekonomi maka konsep foreign assistance dilakukan AS terhadap negara-negara di asia dengan syarat mereka ikut menerapkan demokrasi di negaranya. Jadi bantuan ekonomi yang dibutuhkan negara-negara diberikan oleh AS asalkan negara tersebut ikut berperan aktif dalam penegakan demokrasi dan HAM.

Kepentingan nasional lainnya dari AS yang dapat kita golongkan ke tingkat important yaitu masalah perlindungan terhadap lingkungan hidup untuk menjamin ketersediaan ekologi yang baik di masa mendatang[11]. Hal ini menjadi bagian yang memiliki keterkaitan dengan survival penduduk AS, hanya saja masalah lingkungan ini menjadi masalah perorientasi jangka panjang. Dalam hal menjaga lingkungan AS menggunakan instrumen multilateral dimana bersama-sama dengan negara serta organisasi internasional berusaha menanggulangi kerusakan ekologi global, baik yang dikarenakan oleh pengambilan sumber daya alam maupun akibat dari proses indutrialisasi negara. Masalah lingkungan hanya dimasukan kedalam tingkat important karena isu ini tetap dianggap penting oleh amerika, namun dikarenakan orientasi dari tujuan ini adalah jangka panjang maka, dirasakan oleh Amerika tidak berimbas langsung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mereka dalam waktu dekat.

Selain hal diatas, Untuk mengetahui perbandingan penggunaan instrumen politik luar negeri AS di beberapa negara di Asia dapat kita lihat dari matriks di bawah ini :

Perbandingan situasi di beberapa negara Asia dalam kaitannya dengan pelaksanaan politik global AS

 

Instruments

Countries

Diplomacy

Economic

Military

China

Bilateral, Multilateral

Export Control

Deterence

Pakistan

Bilateral

Foreign Assistance

Deterence

Korea Utara

Multilateral

Foreign Assistance or Sanction

Deterence

India

Bilateral

Foreign Assistance

Deterence

 

Apabila kita lihat dari matriks diatas, dapat dilihat bahwa penggunaan Instrumen politik luar negeri AS di negara Pakistan dan India terdapat kesamaan. Dimana kecenderungan Amerika menggunakan instrumen militer Deterrence, yang bertujuan untuk memperlihatkan keunggulan militernya. Dalam penggunaan instrument ekonominya, AS menggunakan konsep foreign assistance guna terciptanya hubungan ekonomi dan politik serta ketergantungan pada AS. Dan dalam instrument diplomacynya AS lebih mengandalkan hubungan bilateral, langsung berhubungan dengan masing-masing negara tanpa menggunakan institusi internasional lainnya. Penggunaan instrumen bilateral diplomacy juga menjadi strategi AS agar lebih mudah menunjukan perbedaan Power yang dimiliki terhadap negara tersebut.

Kesamaan penggunaan instrumen-instrumen politik luar negeri AS ini dikarenakan negara-negara ini memiliki hubungan kerjasama yang baik dengan AS dan memiliki posisi serta peran strategis AS dikawasan ini seperti upaya amerika menjaga stabilitas kawasan ini tentu membutuhkan dukungan dari negara-negara besar di suatu kawasan, dalam hal ini India dan Pakistan cukup dikenal sebagai salah satu negara besar Asia. Selain itu AS berusaha menjaga agar pengaruhnya di kawasan Asia tetap terjaga, hal ini dikarenakan adanya kekuatan baru di benua ini yaitu China yang juga melakukan pendekatan-pendekatan politik terhadap negara-negara di Asia guna meperluas pengaruhnya.

Ketika berbicara mengenai hubungan China-Amerika yang kompleks (competition, cooperation,dan intrik) membuat Pola penggunaan instrument AS terhadap negara ini berbeda juga. Oleh karena dari segi militer masih menggunakan deterrence dimana AS tidak menyerang dan bertahan, tetapi lebih ke pembangunan image bahwa militer AS memiliki kekuatan yang besar. Dalam kasus China hal ini digunakan untuk mencegah China menyerang Taiwan yang memiliki hubungan kerjasama keamanan dengan AS. Sedangkan dari segi Ekonomi maka instrumen kontrol terhadap eksport China ke AS digunakan. Hal ini dilakukan karena China sebagai raksasa ekonomi baru di Asia bersaing dengan AS dalam perekonomiannya, dimana China dapat memproduksi barang yang berharga murah dengan kualitas yang baik. AS khawatir apabila tidak diberlakukan kontrol terhadap ekspornya, produk China akan membanjiri pasar Amerika, hal ini mebahayakan industri dalam negeri Amerika sendiri. Dilihat dari penggunaan instrumen diplomasinya AS melakukan pendekatan terhadap China baik secara bilateral maupun multilateral. Karena hubungan AS-China kompleks maka kedua pendekatan ini (langsung dan melibatkan aktor internasional lain) harus dilakukan China agar dapat menjembatani masalah-masalah di berbagai bidang antara kedua negara ini.

Penggunaan instrumen politik luar negeri AS kembali berbeda ketika berbicara hubungannya dengan Korea Utara dimana AS membawa masalah yang menyangkut negara ini ke dalam tingkat multilateral, seperti kasus rencana uji coba nuklir Korea Utara yang dibawa AS ke Dewan Keamanan PBB[12]. AS disini lebih menggunakan instrumen diplomasi yang bersifat multilateral. Sedangkan dalam instrument ekonominya, selama in AS lebih cenderung menggunakan Foreign Assistance namun Apabila Korea Utara tetap melakukan ujicoba nuklir, pemberian sanction terhadap Korea Utara dapat saja dilakukan[13]. Hal ini juga didukung oleh penggunan instrumen militer yang bersifat Deterrence namun dapat berubah menjadi Pre-Emptive ketika Korea Utara sudah dianggap membahayakan Survival dan “Homeland” dari Amerika Serikat.

Dari hal-hal diatas dapat kita lihat bahwa penggunaan instrument dan power yang dimiliki oleh amerika terhadap negara-negara di Asia berbeda-beda meskipun telah dapat digambarkan secara global pada matriks sebelumnya. Jadi, tidak bisa dipungkiri bahwa Penggunaaan instrumen dan power tersebut disesuaikan dengan upaya pemenuhan kepentingan nasional negara AS serta kondisi dan situasi yang terjadi antara negara AS dan negara-negara di Asia. Ketika hubungan suatu negara semakin kompleks maka semakin kompleks pula penggunaan instrumen-instrumen politik luar negeri AS.


[1] Untuk mengetahui perumusan politik luar negeri dapat dilihat di: Perwita, Anak Agung Banyu. Yani, Yanyan mochamad. 2005. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Halaman 60.

[2] Lihat Robert J. Art (2003). A Grand Strategy for America. Ithaca: Cornell University Press. Hal 45-47

[3] Lihat McGrew, Anthony, Brook, Christopher (eds.) (1997). Asia Pacific in the New world Order. London: Routledge. Hal. 163-166

[4] Konsumsi minyak AS dan dunia dapat dilihat Energy Information Administration (EIA). 2004. World Production of Crude Oil, NGPL, Other Liquids, and Refinery Processing Gain 1980-2002. Washington, D.C.: U.S. Department of Energy.

[5] Konsep homeland dapat dilihat lebih jauh di: Robert J. Art (2003). A Grand Strategy for America. Ithaca: Cornell University Press. Hal 47-55.

[6] Lihat juga Connors, Michael K, Davison, Remy, Dosch, Jorn (eds.) (2004). The New Global Politics of the Asia Pacific. London: Routledge. Hal. 57-63

[7] Dikutip dari buku: Perwita, Anak Agung Banyu. Yani, Yanyan mochamad. 2005. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Halaman 35.

 

[8] Lihat Baylis, John & Smith, Steve. 2001. The Globalization of World Politics. 2nd Ed. Oxford hal 317

[9] Lihat Howard H Lentner. 1974. Foreign Policy Analysis, A Comparative and Conceptual Approach. Colombus, Ohio. Hal 96.

[10] Lihat P. Hastedt, Glenn. 2003. American Foreign Policy: Past, Present, Future, 5th ed. New Jersey: Prentice Hall. Hal. 27

[11] Lihat Baylis, John & Smith, Steve. 2001. The Globalization of World Politics. 2nd Ed. Oxford hal.393

[12] Lihat pendapat Bantarto Bandoro Mengenai uji coba nuklir Korea Utara dalam situs CSIS: http://www.csis.or.id/scholars_opinion_view.asp?op_id=541&id=40&tab=0

[13] Lihat http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/asia-pacific/6041604.stm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s